home

HOME

pages

HALAMAN

Belum Ada Perubahan Nyata! Warga Sesalkan: Debu dan Kebisingan PT Woongsol Masih Sama Saja, Hanya Reda Sesaat

18-06-2026 | Daerah | 126x dibaca
Belum Ada Perubahan Nyata! Warga Sesalkan: Debu dan Kebisingan PT Woongsol Masih Sama Saja, Hanya Reda Sesaat
"Dok, Debu. PT wonggsool dalam satu malam"

Lampung Selatan, 18 Juni 2026 – Bilah News

Berbeda dengan anggapan bahwa kondisi lingkungan mulai membaik pasca pemberitaan, sejumlah warga Desa Sukabanjar, Kecamatan Sidomulyo, Kabupaten Lampung Selatan, justru menyampaikan kekecewaan mendalam. Menurut pengakuan mereka, aktivitas produksi di PT Woongsol Nature Indonesia sejatinya masih berjalan seperti biasa. Penurunan intensitas debu serta suara mesin yang dirasakan beberapa hari terakhir dinilai hanya bersifat sesaat dan tidak mengubah fakta utama: masalah pencemaran lingkungan belum selesai ditangani.

 

Beredar kabar bahwa pabrik telah mengurangi jam operasinya setelah keluhan warga viral di media massa. Namun, hasil pengecekan langsung ke lokasi dan konfirmasi kepada sejumlah warga menunjukkan realita yang berbeda. Sebagian besar warga menilai belum ada perbaikan berarti pada kualitas lingkungan tempat tinggal mereka.

 

Seorang ibu rumah tangga yang enggan disebutkan namanya membantah anggapan bahwa produksi perusahaan berkurang secara drastis. Menurutnya, apa yang terjadi belakangan ini hanyalah strategi biasa yang dilakukan perusahaan saat mendapat sorotan publik, namun kondisinya akan kembali seperti semula seiring meredanya perhatian.

 

"Memang ada satu dua malam suaranya agak pelan, tapi itu cuma sementara. Mulai pagi hingga sore, pabrik tetap beroperasi penuh seperti biasa. Jangan kira karena sudah diberitakan, masalah selesai begitu saja. Debu cokelat itu masih ada, masih menempel di baju yang dijemur, dan masih mudah masuk ke dalam rumah. Kalau dikira udah bersih, itu salah besar, Mas. Biasanya memang begitu, kalau ramai dibahas mereka mengendap sebentar, tapi pas sepi, ya kembali berulah sembarangan lagi," ungkapnya kepada Bilah News.

 

Hal senada disampaikan Tri, warga yang sebelumnya sempat mengungsi demi menyelamatkan kesehatan anaknya. Ia menegaskan bahwa apa yang dirasakan belakangan ini bukanlah bentuk pengurangan produksi secara permanen, melainkan sekadar penyesuaian jam kerja di malam hari saja. Sementara di siang hari, aktivitas pabrik berjalan lancar dan debu masih beterbangan cukup tebal.

 

"Benar kalau malam suaranya tidak lagi berisik seperti dulu, itu yang kami rasakan. Tapi kalau siang? Masih sama persis seperti sedia kala. Debunya masih ada, menyapu rumah saja masih bisa dapat segenggam lebih. Kami tidak mau dibohongi dengan perubahan kecil di malam hari, karena dampak utama dari debu itu justru kami rasakan dari pagi sampai sore saat anak-anak beraktivitas dan bersekolah," tegas Tri dengan nada kecewa.

 

Warga sangat khawatir jika pihak publik maupun pemerintah beranggapan masalah sudah selesai hanya karena ada sedikit penurunan tingkat kebisingan di malam hari. Padahal, keluhan utama masyarakat adalah ancaman gangguan kesehatan akibat debu yang beterbangan di siang hari, serta pencemaran yang mengotori lingkungan pemukiman hingga lingkungan sekolah.

 

Masyarakat menegaskan bahwa mereka tidak akan diam saja jika penanganan masalah ini dianggap tuntas hanya karena adanya perubahan sementara. Warga menuntut kepastian dan solusi nyata, bukan sekadar tindakan "mengalah sesaat" semata-mata demi meredam kemarahan publik.

 

"Jangan sampai pemerintah dan pihak berwenang menganggap masalah sudah beres. Kami masih menghirup udara yang sama, kami masih merasa takut akan kesehatan anak-anak kami. Kami butuh solusi jangka panjang, bukan sekadar diam sebentar pas ada sorotan, lalu nanti berulah lagi seperti dulu," tambah warga lainnya.

 

Sikap acuh tak acuh juga dirasakan warga terhadap para pemangku kebijakan. Meski awak media telah menyampaikan berita keluhan pencemaran debu ini kepada sejumlah anggota dewan, Camat Sidomulyo, hingga Wakil Bupati Lampung Selatan M. Saiful, respons yang diterima sangat minim. Sebagian tidak membalas sama sekali, sementara sebagian lainnya merespons namun tidak menindaklanjuti dengan turun langsung menemui masyarakat untuk mendengar dan mempertanyakan persoalan debu dari PT Woongsol tersebut.

 

Hingga berita ini diterbitkan, pihak PT Woongsol Nature Indonesia tetap belum memberikan tanggapan maupun keterangan resmi terkait operasional perusahaan. Belum ada penjelasan apakah penurunan suara di malam hari itu merupakan bagian dari upaya perbaikan sistem atau sekadar penyesuaian sementara demi menghindari sorotan.

 

Pemerintah daerah pun hingga kini belum merilis hasil pemantauan terbaru maupun langkah tindak lanjut yang pasti. Akibatnya, ketidakpastian dan kekhawatiran warga Sukabanjar masih terus berlanjut. Bagi warga, belum ada kata "lega" dan masalah belum dianggap selesai sebelum debu itu benar-benar hilang selamanya, bukan sekadar mereda sesaat.


( A D S )

Admin

Admin

Jasa Pembuatan News CMS