Lampung Selatan, Rabu 17 Juni 2026 – Keresahan warga Dusun Katibung (Bumilat), Desa Sukabanjar, Kecamatan Sidomulyo, Kabupaten Lampung Selatan, semakin memuncak. Debu yang diduga kuat berasal dari aktivitas operasional PT Woongsol Nature Indonesia terus mengotori lingkungan, mengganggu kesehatan, hingga mengancam masa depan pendidikan anak-anak di wilayah tersebut. Parahnya, hingga saat ini keluhan warga seolah tak didengar, belum ada langkah penanganan nyata, dan belum ada pihak yang bertanggung jawab secara langsung atas permasalahan ini.
Sudah bertahun-tahun warga harus menelan pahitnya hidup dikelilingi debu berwarna cokelat kehitaman yang diduga berasal dari proses pengolahan sabut kelapa di perusahaan itu. Seorang warga berusia 58 tahun yang meminta identitasnya dirahasiakan mengaku tak lagi sanggup diam menanggung dampak yang dirasakannya. Ia kerap mengalami sesak napas dan gatal-gatal parah di seluruh tubuh, yang penyebabnya jelas berasal dari debu halus tersebut.
“Kalau baju basah dijemur, debunya langsung menempel. Saat dipakai, rasanya gatal dan perih sekali, seperti ada yang menusuk-nusuk kulit. Ini sudah berlangsung lama, tapi tidak ada perubahan sama sekali,” ungkapnya dengan nada berapi-api. Ia bahkan sudah aktif mencari informasi cara melapor hingga ke tingkat pusat, lengkap dengan menyimpan nomor aduan yang tersedia. Kendala yang dihadapi kini hanya penyusunan surat laporan agar keluhan warga dapat didengar dan ditindaklanjuti.
Poin yang paling membuat kemarahan warga memuncak adalah fakta bahwa saat petugas Dinas Lingkungan Hidup pernah memasang alat pengukur kadar debu beberapa waktu lalu, pabrik justru tidak beroperasi. Hingga kini, hasil pemeriksaan tersebut pun belum pernah disampaikan kepada masyarakat. Warga menilai hal ini bukan lagi sekadar kekurangtelitian dalam pengawasan, melainkan seolah ada rekayasa agar kondisi lingkungan yang buruk tidak tercatat dalam data resmi.
“Saat alat dipasang, pabrik diam saja, tidak berproduksi. Sampai sekarang kami tidak pernah diberi tahu hasil pemeriksaan itu. Apakah aman? Apakah berbahaya? Kami tidak tahu apa-apa,” tegasnya.
Ketakutan terbesar warga justru tertuju pada nasib anak-anak mereka. Seorang ustaz warga setempat mengaku sangat cemas memikirkan kesehatan kedua buah hatinya yang masih berusia 5 dan 3 tahun. Ia mengingat pernah ada tim dari Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan atas arahan Bupati yang turun ke lapangan, namun kunjungan itu hanya berlangsung sesaat dan tidak membawa perubahan berarti.
“Dulu sempat ada tim dari Pak Bupati turun, tapi sampai sekarang kami masih dihujani debu. Saya takut sekali kalau anak-anak saya terkena penyakit paru-paru atau gangguan pernapasan akibat menghirup udara ini terus-menerus. Saya sedang mempelajari alur pelaporan hingga ke tingkat provinsi, karena kami sudah tidak tahu harus minta tolong ke mana lagi,” ujarnya dengan nada gemetar menahan emosi.
(Foto: Hasil rekam medis rontgen menunjukkan indikasi gangguan kesehatan pada paru-paru warga yang terdampak)
Kisah paling memilukan datang dari Tri, seorang ibu muda yang baru dikaruniai anak setelah menanti selama 14 tahun masa pernikahan. Demi menyelamatkan nyawa sang buah hati, ia terpaksa mengungsi meninggalkan rumahnya sendiri. Pasalnya, anaknya sempat harus menjalani perawatan inap selama lima hari di Rumah Sakit Restu Bunda dengan hasil pemeriksaan medis menunjukkan indikasi infeksi paru-paru, yang diduga kuat berkaitan erat dengan paparan debu berlebih di lingkungan tempat tinggalnya.
“Kesal saya, Mas! Menyapu rumah itu tak ada habisnya. Sekali menyapu saja bisa terkumpul segenggam lebih debu sabut kelapa berwarna cokelat kehitaman itu. Akhirnya saya pasang plafon rapat, rapatkan semua celah pintu dan jendela, tapi debu tetap saja bisa masuk. Karena takut anak saya kenapa-napa, saya memilih pindah dulu ke rumah orang tua di Gang SMA. Saya tidak mau kehilangan anak yang baru dikaruniai Allah setelah sekian lama menunggu,” ungkap Tri dengan mata berkaca-kaca.
Kemarahan warga semakin meluap karena merasa benar-benar diabaikan. Seorang warga berusia 60 tahun yang memiliki lima orang cucu mengaku, hingga berita ini diturunkan, belum ada satu pun pihak berwenang maupun perwakilan perusahaan yang datang menemui warga secara langsung untuk mendengar keluhan atau menawarkan solusi. Kunjungan pejabat yang ada seolah hanya berputar di kantor desa atau langsung menuju gerbang pabrik, tanpa sekalipun menyapa mereka yang merasakan dampak nyata setiap harinya.
“Belum ada petugas dinas, belum ada camat, apalagi orang dari pabrik yang datang ke kami warga. Entah mereka rapat di balai desa atau masuk ke kawasan pabrik, kami tidak tahu. Yang kami tahu, debu makin tebal apalagi saat musim kemarau begini, terbawa angin ke mana-mana. Sehari saja saya bisa menyapu halaman sampai lima kali karena debu sudah menumpuk tebal,” keluhnya.
Debu itu tidak sekadar mengotori halaman atau pakaian warga. Partikel halus tersebut masuk ke sela-sela bangunan, menempel di atap rumah, mengotori peralatan makan, menumpuk di dalam penanak nasi, hingga masuk ke dalam makanan yang disajikan. Seorang nenek warga setempat tak kuasa menahan tangis saat bercerita bagaimana ia terpaksa membuang masakan yang sudah ditutup rapat pun tetap tercampur debu.
“Masuk ke dalam sayur, Mas! Padahal sudah ditutup panci, sudah ditutup daun pisang, tetap saja ada debunya. Kami makan apa kalau begini terus? Kami bernapas pakai udara seperti apa? Apakah kami harus diam saja sampai ada yang sakit parah atau meninggal dulu baru permasalahan ini ditanggapi serius?” serunya dengan suara bergetar.
(Foto: Lingkungan sekolah yang dipenuhi debu, mengganggu kegiatan belajar mengajar)
Dampak buruk ini bahkan sudah merambah ke dunia pendidikan, tempat masa depan generasi bangsa ditempa. Seorang tenaga pendidik di MI Raudhatul Aulia mengaku sangat khawatir melihat kondisi yang terjadi. Setiap hari, para guru dan murid harus bekerja keras membersihkan debu tebal yang masuk ke ruang kelas, padahal lokasi sekolah itu terbilang cukup jauh dari pemukiman padat.
“Setiap hari kami menyapu dan membersihkan debu ini tanpa henti. Rasanya hati sakit sekali melihat anak-anak kami, calon penerus bangsa, harus bernapas udara yang kualitasnya tidak jelas dan berisiko bagi kesehatan. Kami menyampaikan keluhan ini selaku guru yang melihat langsung bahaya ini mengancam murid-murid kami, bukan mewakili kepentingan warga mana pun,” tegas guru itu dengan nada kecewa.
Hingga berita ini diturunkan, debu masih terus berterbangan, kesehatan warga masih terancam, dan harapan akan perubahan masih sangat tipis. Warga Dusun Katibung kini menuntut kejelasan: di mana tanggung jawab pengelola pabrik? Di mana peran pengawasan pemerintah? Dan sampai kapan mereka harus bertahan hidup di tengah debu yang perlahan meracuni lingkungan dan tubuh mereka?
( A D S )