LAMPUNGSELATAN— Tupping, merupakan sebuah cerita perjuangan dan peninggalan sejarah yang menggambarkan sebuah patriotisme 12 prajurit pasukan tempur (penjaga rahasia) tokoh perjuangan kemerdekaan Radin Inten I (1751-1828), Radin Imba II (1828-1834) dan Radin Inten II (1834-1856) dari Keratuan Darah Putih.
Tupping berasal dari Kabupaten Lampung Selatan terutama di Desa Kahuripan, Desa Kesugihan dan Desa Canti. Istilah Tupping ini sendiri berasal dara kata Tup memiliki arti Tutup, dan kata Ping artinya adalah Merapatkan atau Menekan Sesuatu Kepadanya. Secara umum, topeng adalah suatu benda menutup muka.
Pulau Sumatera salah satunya Provinsi Lampung, sebagai daerah yang kaya akan hasil rempah-rempah (lada) disamping Semenanjung Melayu (Riau) dan Minang Kabau, Sumatera Barat yang membuat daya tarik bagi organisasi perdagangan milik Belanda yakni VOC (Vereenigde Outstindische Compagnie) pada masa itu.
Perjuangan Keratuan Darah Putih berjuang mengusir penjajah Belanda dari tanah Lampung, dikisahkan pada abad 13 hingga 17. Pada abad tersebut, perdagangan lada di lampung berada dibawah kekuasaan Kesultanan Banten.
Hal itu tercantum dalam sebuah Piagam bernama Dalung Kahuripan, dimana isi dalam Piagam tersebut adalah “Maka Lami-lami Ratu Darah Putih Iku Ing Banten Mai nya Kui Lampung, Anjeneng akan Pangeran Sabakingking Ngadekaken Ratu”.
Isi dalam piagam itu memiliki perjanjian yang sangat kuat antara Lampung dan Banten, karena Pangeran Sabakingking atau Sultan Hasanuddin dari Banten merupakan saudara tertua lain ibu dengan Minak Gejala Ratu atau Muhammad Aji Saka sebagai pemimpin di Keratuan Darah Putih di Desa Kahuripan, Lampung Selatan.

Pada abad ke-17, perdagangan lada di daerah Lampung menjadi monopoli Kesultanan Banten. Belanda melalui Gubernur Jenderal H.W Daendels dari Belanda, berdagang mencari rempah-rempah di Lampung. Mereka, justru menguasai daerah Lampung dengan cara memaksa dan menghapuskan hak kekuasaan Kesultanan Banten.
Pada 22 September 1908, Daendels menyatakan kekuasaannya atas daerah Lampung. Pernyataan itu ditanggapi dengan perlawanan dan perjuangan untuk mempertahankan daerah dari Keratuan Darah Putih di Lampung.
Perlawanan Keratuan Darah Putih terhadap Belanda, pertama dilakukan Radin Inten I yang merupakan anak dari Ratu Darah Putih atau Muhammad Aji Saka dan Tun Penatih sebagai pewaris tahta sebagai Ratu (Raja) dari Keratuan Darah Putih atau Negara Ratu yang berpusat di Desa Kahuripan yang sekarang masuk di wilayah Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan.
Setelah Radin Inten I meninggal dunia, perlawanan terhadap penjajah Belanda dilanjutkan oleh tokoh Keratuan Darah Putih yakni Radin Imba II yakni anak dari Radin Inten I. Kemudian perlawanan terhadap Belanda, dilanjutkan oleh seorang pemuda perkasa yang gigih menentang penjajahan yakni Radin Inten II (Pahlawan Nasional) yang merupakan anak dari Radin Imba II.
Selain itu, Tupping 12 wajah ini, sebagai pasukan tempur rahasia Keratuan Darah Putih menyamarkan dirinya dengan mengenakan topeng dan bertempur sebagai prajurit gerilya. Tugas mereka, bukan hanya sebagai mata-mata, tapi sebagai penyerbu dengan berpura-pura menjadi bagian dari masyarakat.
Setelah selesai melakukan penyerangan, pasukan Tupping menyamarkan dirinya dengan menggunakan daun-daunan dan masuk ke dalam hutan untuk menyembunyikan diri.

Dilihat dari segi penokohan saat ini, Tupping banyak ditayangkan di dalam acara pernikahan, khitanan, penyambutan tamu besar dan acara adat dengan menggunakan replikanya. Tupping khusus Kahuripan dan Canti tidak boleh ditiru, hal ini dikarenakan memiliki kekuatan mistis sehingga tidak semua orang bisa memakainya.
Meskipun sudah menjadi bagian kesenian dan budaya, Tupping Kahuripan hanya bisa dikenakan oleh keturunan dari 12 punggawa itu, karena harus melakukan ritual khusus untuk mengenakan topeng-topeng tersebut.
Kemudian Tupping Canti, hanya digunakan oleh laki-laki yang usianya sudah mencapai 20 tahun. Bila ada yang menggunakan Tupping ini, maka harus izin terlebih dulu pada Dalom Marga Ratu karena kegagalan dalam mentaati aturan akan mengakibatkan kejadian yang tidak diinginkan oleh pemakai topeng baik itu Tupping Kuripan dan Tupping Canti.
Pertunjukan tari tupping dipentaskan sebagai drama tari yang bisa ditonton, drama tari ini menampilkan seni tari yang didasarkan dengan sebuah cerita yang menyimpan nilai cita-cita luhur para pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan di wilayah Lampung Selatan.
Jenis dan Karakter Tupping
Tupping adalah hulu balang (prajurit) tempur gerilya terdiri dari 12 pasukan, dengan berbagai macam karakter atau keahlian berbeda-beda yang dipanggil dengan sebutan nama sesuai dengan keahliannya masing-masing seperti :
1. Tupping Ikhung Tebak (Hidung Melintang), bertanggungjawab kepada seluruh pasukan yang sedang berperang.
2. Tupping Ikhung Cungak (Hidung Mendongak), memiliki arti penciuman yang sangat tajam untuk mengetahui keberadaan musuh.
3. Tupping Luah Takhing (Keluar Taring), memiliki arti menunjukkan sikap keberanian aatau berani mati.
4. Tupping Jengguk Khawing (Janggut Panjang Tidak Beraturan), artinya menunjukkan sikap berani dan seram.
5. Tupping Banguk Khabit ( Mulut Sompel), memiliki karakter seperti berbicara terbata-bata dengan 12 orang pasukan yang selalu siaga di Selat Sunda.
6. Tupping Bekhak Banguk (Mulut Lebar), memiliki karakter berbicara keras dan tegas.
7. Tupping Mata Sipit, yakni menunjukkan karakter berpikir karena memiliki banyak ide.
8. Tupping Banguk Kicut (Mulut Mengot), memiliki keahlian dalam menyampaikan sandi-sandi.
9. Tupping Pudak Bebai (Muka Perempuan), memiliki karakter seperti wanita dan di medan pertempuran melebihi seperti pria.
10. Tupping Mata Kedugok (Mata Ngantuk), memiliki karakter pendiam dan pengantuk tapi ketika waktunya akan menjadi sangat gagah.
11. Tupping Mata Kicong (Mata Sebelah), berakter yang selalu siap siaga dan tidak pernah tidur.
12. Tupping Ikhung Pisek (Hidung Pesek), memiliki karakter apa adanya.
Para hulu balang atau Tuping 12 pasukan tempur gerilya itu, melakukan penjagaan di beberapa wilayah Keratuan Ratu Darah Putih seperti di Gunung Rajabasa, Tanjung Tua, Anjak Keratuan sampai Matakhani Mati, Seragi sampai Way Sekampung, Gunung Cukkih Selat Sunda, Keliling Gunung, Batu Payung, Gunung Kakhang, Tanjung Selaki, Anjak Keratuan Mid Matakhani Minjak, Tuku Tiga dan Sumokh Kucing.
Ragam Gerak Tari Tupping
Tari Tupping, berakar dari kisah 12 prajurit atau pendekar yang menjadikan topeng bukan hanya sekedar penyamaran, tapi sebagai simbol perjuangan, keberanian, kesetian dan kehormatan.
Tarian Tupping ini, dibuat sekira tahun 1984 dengan mengambil sumber dari Desa Kahuripan untuk mengetahui akan sejarahnya. Diciptakannya tari tupping ini, yakni dengan tujuan untuk menghibur masyarakat dan mengenalkan akan nilai-nilai sejarah perjuangan.
Dahulu, penari Tupping ini dibawakan 12 orang laki-laki. Hal ini, dilatarbelakangi karena para hulu balang atau pasukan tempur adalah pria. Gaya tari yang dibawakan oleh kaum pria, adalah gerak prajurit yang menunjukkan kegagahan dan keperkasaan.

Para penari Tupping juga harus dalam keadaan suci jiwa dan raga, tidak sedang mengalami persoalan hidup dan gangguan rohani serta fisik.
Musik yang menjadi pengiring tari Tupping, umumnya terdiri dari tiga instrumen yakni musik vokal yang dihasilkan oleh suara manusia, lalu musik tangan yang dihasilkan oleh tepukan dan jentikan jari serta musik instrumen yang dihasilkan dari alat musik tradisional. Musik yang dinyanyikan, adalah syair berisi peribahasa Lampung.
Ragam gerak yang dilakukan penari tupping, mirip dengan gerakan pencak silat dan tidak terstruktur. Gerakan silat, mencerminkan gerak prajurit geriya Keratuan Darah Putih. Tarian Tupping ini juga, lebih dinikmati oleh penari untuk menghibur penonton.
Di zaman sekarang, pertunjukkan drama tari tupping memiliki berbagai gerakan baru tergantung dari mana penarinya berasal. Meski demikian, ragam gerak yang diciptakan tetap harus mempertahankan makna gerakan prajurit yang serius seperti pasukan gerilya.
Properti dan Fungsi Tari Tupping
Kostum atau busana yang digunakan penari Tupping terdiri dari tiga busana, yakni busana dasar mengguakan baju dan celana hitam, busana kepala menggunakan kain yang dipasang dedauan untuk menutupi kepala dan busana tubuh yang juga dipenuhi dengan dedaunan.
Kemudian aksesori yang digunakan penari adalah gelang tangan dan kalung tegal buduk, dan hal terpenting lainnya yang dipakai oleh penari adalah topeng serta tongkat.
Sedangkan alat musik yang digunakan untuk menghasilkan instrumen musik, yakni gekhumung, gong, canang, sekhedapan, gujih, rebana dan gamelan.

Drama seni tari Tupping, dipentaskan sebagai tontonan. Drama kolosal tari tupping ini, berfungsi sebagai penolak balak pada acara adat seperti prosesi adat perkawinan, upacara adat khitanan, ruwatan hasil laut dan pengangkatan kepala marga.
Pertunjukan kolosal tari Tupping, sering menjadi tempat berkumpulnya masyarakat dan pertunjukkan tari ini juga mampu memberikan kebahagiaan dan rasa solidaritas antar sesama.
Atraksi para penari Tupping yang tidak terduga, dari atraksi berguling, saling tempur dan melompati penari lain sehingga membuat penonton bertepuk tangan dengan raut senyum di wajah mereka. (Red)