LAMPUNGTIMUR--Ditengah gempuran budaya modernisasi, sekelompok desa di Provinsi Lampung yang tergabung dalam budaya Sekappung Limo Migo di Kabupaten Lampung Timur hingga kini tetap menjaga tradisi warisan budaya. Semangat budaya ini dihidupkan dalam gelaran “Festival Adat Seni Budaya Limo Migo” yang digelar di Lapangan Merdeka Desa Peniangan, Kecamatan Marga Sekampung, Kabupaten Lampung Timur, Selasa (24/6/2025).
Festival ini bukan hanya sekedar perayaan biasa, namun sebagai nafas panjang dari warisan keberadaan budaya Sekappung Limo Migo yang merupakan sebuah kesatuan adat kebandaran dari enam Tiyuh atau Desa induk yakni Desa Batu Badak, Peniangan, Toba, Bojong, Gung Sugih Besar dan Gunung Raya.
Meski keenam desa ini tersebar (terpisah) di dua Kecamatan berbeda, yakni Sekampung Udik dan Marga Sekampung, namun berpadu dalam satu jiwa budaya yang sama menyatu dalam ikatan yang tak pernah tergoyahkan dengan sekat administratif. Festival ini hadir, sebagai pengingat bahwa akar budaya sebagai ujung tombak di masa depan.
Pantauan dilokasi, hamparan hijau lapangan Merdeka berubah menjadi panggung besar bagi sejarah, identitas dan kebanggaan lokal yang dibungkus kebudayaan dalam tema Festival Adat Seni Budaya Limo Migo.
Hadir dalam gelaran festival ini, Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela bersama keluarganya, Bupati Lampung Timur Ela Siti Nuryamah, anggota DPR RI asal Lampung Chusninia Chalim (Nunik), Kapolres Lampung Timur AKBP Heti Patmawati, Dandim 0429/Lampung Timur Letkol Arif Budiman serta para tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat dan pemuda.
Dalam festival budaya ini, disajikan ritual adat, tarian khas, musik tradisional dan ada pameran kerajinan tangan turut mewarnai festival ini. Selain itu juga tersedia kuliner tradisional yang menyajikan cita rasa warisan nenek moyang yang lahir dari dapur-dapur pun menggoda mata dan hidung para pengunjung.
Tarian Kenuy Melayang secara massal disertai arak-arakan adat dan bunyi gamelan khas adat Lampung, mengiringi prosesi sakral persaudaraan yang dibalut dalam gelaran Festival Sekappung Limo Migo.
Namun dibalik kemeriahan festival ini, tersembunyi adanya sebuah misi yang lebih dalam untuk terus melestarikan identitas dan jati diri adat budaya lokal yang harus terus dilestarikan.

Ahmad Kausar, Ketua Pelaksana Fetival Adat Seni Budaya Limo Migo mengatakan, festival adat budaya ini bukan hanya sekedar perayaan, tetapi sebagai perwujudan cinta terhadap akar budaya dan sekaligus ajakan untuk tidak melupakan sejarah budaya ditengah gempuran arus moderniasi perkembangan zaman.
“Festival ini digelar bukanlah sekedar hiburan semata, tapi ini tentang memperkenalkan jati diri kita dan mengingatkan anak cucu agar tidak lupa akan akar budaya. Kami berharap festival ini menjadi jendela informasi, agar masyarakat luas tahu Lampung Timur punya kekayaan budaya. Tapi lebih terpenting lagi, agar generasi muda kita bangga memilikinya dan mau mewarisinya,”kata dia dilokasi.
Kemudian salah satu tokoh adat, Yusufmengatakan, budaya Sekappung Limo Migo ini sudah ada sejak abad ke-18 silam, dan pada hari ini kita gelar festival adat budaya ini untuk kali pertamanya diadakan. Dengan adanya kegiatan ini,semoga kita dapat berkomunikasi secara baik dari segi hukum adat, hukum negaraserta hukum agama.
“Harapannya, kegiatan festival ini kedepannya lebih meriah lagi. Saya berpesan kepada generasi muda agar selalu mempelajari adat budaya Sekappung Limo Migo, oleh karena kita adakan festival ini supaya generasi kita nanti tidak melupakan adat istiadat budaya,”ujarnya.
Festival Adat Limo Migo Bukan Sekedar Pesta
Gelaran festival adat Sekappung Limo Migo ini, bukan hanya sekedar karnaval atau atraksi budaya biasa. Dibalik arak-arakan dan pertunjukan Tarian Kenui Melayang yang ditampilkan secara massal tersebut, tersirat sebuah makna bahwa adat Budaya tidak mati, dan akan tetap hidup disetiap hela napas masyarakatnya.
Semangat gotong-royong warga baik itu para tetua adat dan pemuda dari enam desa ini begitu kental terasa di acara festival, hal ini terlihat dari mereka menyiapkan pakaian adat, melatih anak-anak menari hingga pentaan beberapa stan kuliner.
Sehingga bukan hanya sekedar pertunjukkan saja yang disajikan, melainkan detak hidup dari budaya untuk terus menyala dalam dekapan erat masyarakat yang tak mau sekedar menjadi penonton dalam sejarah adat budayanya sendiri.
Tarian
Kenui Melayang khas Sekappung Limo Migo tampil secara massal dalam “Festival
Adat Seni Budaya Limo Migo” di Lapangan Merdeka Desa Peniangan, Kecamatan Marga
Sekampung, Kabupaten Lampung Timur, Selasa (24/6/2025). (Foto: Bilahnews.id)
Bupati Lampung Timur, Ela Siti Nuryamah menyampaikan bahwa pentingnya semangat gotong-royong, kolaborasi dan kekompakan masyarakat adat sebagai kekuatan utama dalam membangun suatu daerah.
“Acara ini bukanlah sekedar festival, tapi ini adalah sebagai jembatan budaya menyatukan lintas generai dan menjadi cermin budaya sebagai karakter Lampung Timur yang sesungguhnya,”kata Ela.
Sekappung Limo Migo ini bukan hanya milik enam desa di dua Kecamatan Sekampung Udik dan Marga Sekampung itu saja, tapi milik Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung dan juga Indonesia, sebagai potret kecil dari mozaik budaya nusantara yang tak ternilai harganya.
Keluarga Wagub Lampung Jadi Saudara Adat Bagian dari Keberadaan Limo Migo
Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela bersama keluarganya “diangken” atau diterima sebagai bagian dari Kebandaran sekappung Limo Migo, sebuah entitas adat Lampung Timir yang mengakar kuat dalam sejarah dan nilai gotong-royong masyarakat Lampung Saibatin dalam gelar “Festival Adat Seni Budaya Limo Migo” di Lapangan Merdeka Desa Peniangan, Kecamatan Marga Sekampung, Kabupaten Lampung Timur, Selasa (24/6/2025).
Prosesi adat tersebut bukan sekedar seremoni simbolik saja, melainkan sebagai bukti nyata bahwa adat bukanlah sebagai warisan usang akan tetapi sebagai identitas hidup yang menyatukan masa lalu, masa kini dan masa depan.
Melalui prosesi “Angken Waghei” pengangkatan menjadi saudara adat, keluarga besar Jihan Nurlela dan kakaknya salah satu tokoh politik perempuan asal Lampung sebagai Chusnunia Chalim (Nunik) bersama suaminya diterima secara sah dan simbolik sebagai bagian dari keluarga besar adat Sekappung Limo Migo.

Mereka tidak hanya menyandang status baru dalam tatanan adat, tetapi juga memiliki tanggungjawab moral untuk menjaga, merawat dan melestarikan nilai-nilai luhur budaya tersebut.
Masuknya keluarga besar Wakil Gubernur Lampung dalam ikatan adat Sekappung Limo Migo ini tidak hanya simbol penghormatan, tapi sebagai sinyal kuat terhadap rekonsiliasi antara struktur kekuasan formal dan otoritas adat.
Selain itu, angken waghei yang dilaksanakan oleh keluarga Wagub Lampung ini bukan hanya seremonial adat, tapi sebagai simbol keberlanjutan continuity antara elit dan akar rumput. Proses ini menunjukkan bagaimana tradisi bisa bersinergi dengan birokrasi, bagaimana leluhur masih menjadikan rujukan ketika masa kini mencari pijakan.
Bagi masyarakat adat, pengangkatan ini juga merupakan pengakuan bahwa mereka masih relevan dan didengar, disaat banyak desa adat berjuang mempertahankan eksistensinya dari tekanan modernisasi dan eksploitasi alam, pengakuan seperti ini menjadi vitamin sosial yang memperkuat akar budaya.
Warga adat Sekappung Limo Migo menyambut baik keterlibatan tokoh-tokoh daerah dalam kegiatan adat budaya yang dibalut dalam gelaran “Festival Adat Seni Budaya Limo Migo”.
Keberadaan Sekappung Limo Migo, telah lama menjadi poros sosial masyarakat adat Lampung Timur. Kehadatan ini bukan sekedar lembaga seremonial, tetapi sebagai struktur kepemimpinan horizontal yang menjamin stabilitas, menyelesaikan konflik dan membentuk moral kolektif masyarakat.
Sejarah Limo Migo tertulis dari generasi ke genrasi, dan persaudaran baru lahir. Tidak karena darah, tapi karena adat yang merangkul. Sekappung Limo Migo hadir sebagai ruang sunyi yang bersuara lantang, bahwa budaya masih bisa menjadi perekat bukan pemecah. (Cah/Red)