home

HOME

pages

HALAMAN

Dua Bulan Pupuk Subsidi Langka, Petani di Lampung Timur Menjerit dan Terancam Gagal Panen

16-07-2026 | Daerah | 104x dibaca
Dua Bulan Pupuk Subsidi Langka, Petani di Lampung Timur Menjerit  dan Terancam Gagal Panen
"Ilustrasi"

LAMPUNGTIMUR—Kelangkaan pupuk ketika musim tanam, sekan sudah menjadi penyakit kronis setiap tahunnya bagi petani di negeri agraris (Indonesia). Musim tanam tahun ini (2026), petani di Kecamatan Waway Karya, Kabupaten Lampung Timur menjerit karena sulit mendapatkan pupuk subsidi di pasaran.


Para petani sangat membutuhkan pupuk tersebut untuk tanaman mereka, karena sudah masuk masa pemupukan. Kelangkaan pupuk tersebut, telah dialami para petani sejak dua bulan terakhir. Akibatnya, tanaman padi tidak berkembang maksimal dan bakal alami gagal panen.


Untuk menyiasati keadaan itu, sebagian petani ada yang meminjam pupuk di tempat saudaranya dari luar daerah Kabupaten Lampung Timur, dan ada juga yang terpaksa merogoh kocek lebih dalam demi membeli pupuk non-subsidi yang harganya jauh lebih mahal.


Keluhan itu di sampaikan Taryono (46), salah seorang petani Desa Ngesti Karya, Lampung Timur, kepada bilahnews.Id, Rabu (15/7/2026) siang kemarin saat ditemui di sawah miliknya mengatakan bahwa pupuk subsidi Urea dan NPK Phonska di Kecamatan Waway Karya sulit didapat, dan kelangkaan pupuk ini sudah berlangsung sejak dua bulan belakangan ini.


“Sudah dua bulan ini pupuk langka. Tanaman padi saya harus segera dipupuk, tapi hingga kini belum dipupuk karena tidak ada. Bahkan saya sudah cari di kios pengecer sampai luar desa dan kecamatan, tapi tetap saja tidak ada pupuk,”keluhnya.



Pupuk tersebut, sangat ia butuhkan untuk tanaman padi miliknya karena usia tanaman padi miliknya sudah berusia 30 hari dan sudah waktunya dilakukan pemupukan kedua. Namun pupuk bersubsidi tidak ada, bahkan di gudang kios pengecer juga kosong.


Untuk menyiasati agar tanaman padinya tidak mati, ia terpaksa harus meminjam pupuk di tempat saudaranya di Kabupaten Lampung Selatan. Meski bisa mendapat pupuk, namun masih kurang. Sebab, pupuk yang dipinjam itu tidak mencukupi untuk kebutuhan tanaman padi di lahannya.


“Karena di tempat kami pupuk langka dan padi yang ditanam harus segera dipupuk, jadi saya pinjam tempat saudara agar tanaman padi saya tidak mati,”ungkapnya.


Menurutnya, setiap pengambilan pupuk di Gapoktan, ia sudah mengumpulkan data seperti KTP serta Foto untuk pengajuan di Kios Pertanian yang menyalurkan pupuk subsidi. Selain itu, uang penebusan pupuk sudah dibayarkan ke Gapoktan ahir bulan Mei 2026, namun hingga kini pupuk masih belum juga didapat.


“Bukan hanya petani di desa kami saja mengeluhkan kelangkaan pupuk, para petani di Desa Karya Basuki, Tanjung Wangi dan beberapa desa lainnya di Kecamatan Waway Karya pun sama kesulitan pupuk karena tanaman mereka juga belum di pupuk,”pungkasnya.


Senada diungkapkan petani lainnya, Marno (41) yang juga mengeluhkan kelangkaan pupuk bersubsidi tersebut. Menurutnya, persoalan ini seakan tidak ada habisnya, dan selalu saja masih terjadi.


“Tanaman padi punya juga sudah waktunya dipupuk, tapi hingga kini belum dipupuk akibatnya padinya telat pemupukan karena tidak ada pupuk sudah dua bulan ini,”ucapnya.


Setiap penebusan pupuk, ia harus membayar terlebih dulu ke Gapoktan. Untuk harga penebusan pupuk, Rp100 ribu per saknya (kantong) baik itu pupuk Urea maupun NPK Phonska. Setelah pupuk datang baru diambil, namun hampir dua bulan ini pupuk tidak ada.


Ia menambahkan, hingga kini ia dan para petani lainnya belum mendapatkan kepastian kapan pupuk tersebut ada. Ia pun berharap, pemerintah menyikapi persoalan ini supaya pupuk cepat ada lagi agar musim tanam tahun ini petani tidak merasa kesulitan pupuk.


“Petani sangat membutuhkan pupuk untuk tanamannya. Semoga pemerintah segera memberikan solusi, agar petani tidak gagal panen karena kelangkaan pupuk ini,”pungkasnya.



Sementara itu, Paidi, salah satu Ketua Gapoktan di Desa Ngesti Karya mengatakan, bahwa pupuk untuk petani di desanya dikelola oleh Gapoktan. Diakuinya, dari bulan Juni 2026 kemarin hingga kini, memang belum keluar jatah pupuk tersebut. Jika pupuk sudah datang, petani tinggal mengambil saja.


“Kalau kekurangan tidak, kendalanya petani susah di foto dan setor photo copy KTP untuk mengurus pengajuan lagi, sehingga jadi terkendala untuk membuat laporan karena kami memerlukannya sebagai bahan laporan pengajuannya,”ujarnya.


Menurutnya, jatah pupuk di musim tanam tahun ini untuk semua Gapoktan di Kecamatan Waway Karya menurun, mulanya total jumlahnya 700 ton kini menjadi 300 ton.


“Untuk tahun ini jumlah kuota pupuknya di kurangi karena kelebihan kapasitas, dimana petani jarang menebus pupuk tersebut,”kata dia.


Okta Saputra, salah satu pemilik Kios Pupuk yang mendistribusikan pupuk bersubsidi ke Desa Ngesti Karya ketika dikonfirmasi menampik terkait kelangkaan pupuk bersubsidi tersebut. Menurutnya, karena masih dalam proses pengajuan.


“Bukan kelangkaan, tapi masih dalam pengajuan dan itu sudah diajukan. Mudah-mudahan dalam waktu dekat ini sudah mulai lancar lagi,”kata dia melalui pesan WhatsApp kepada bilahnews.id.


Kemudian permasalahan kemarin itu, karena barang terbatas dan muatnya di Pelabuhan semua. Selain itu, proses pengirimannya juga saat ini di jatah.


“Jadi pengirimannya di jatah, satu hari di jatah 25 mobil untuk wilayah Lampung Timur dan Lampung Selatan,”pungkasnya. (Cah/Red)

Z41bento

Z41bento

Jasa Pembuatan News CMS